Polsekta 04 Makassar, Gelar Sosialisasi Anti Bullying Di UPTD SPF SDN. Kip V Bara – Baraya Makassar.

TargetNasional, Makassar – Dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan perundungan (Bullying), UPTD SPF SDN. Kip V Bara – Baraya Makassar, menggelar kegiatan sosialisasi anti-bullying bekerja sama dengan Polsekta 04 Makassar.

Kegiatan yang didahului dengan pembiasaan shalat Dhuha berjamaah ini diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta staf, dan berlangsung di halaman sekolah tersebut. Jum’at (30/10/26)

Sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari Polsekta 04 Makassar yang telah berpengalaman dalam menangani berbagai kasus kenakalan remaja dan perundungan di lingkungan madrasah, yakni Ipda Syawaluddin.

Dalam paparannya,Β  Ipda Syawaluddin menyampaikan pentingnya pemahaman siswa terhadap tindakan bullying, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun cyberbullying yang kini mulai marak terjadi di kalangan anak-anak.

Para siswa terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Selain mendengarkan penjelasan, mereka juga diajak berdialog interaktif dan diberikan contoh nyata dampak buruk bullying terhadap korban, seperti menurunnya semangat belajar, depresi, bahkan dalam kasus ekstrem bisa menyebabkan keinginan untuk mengakhiri hidup.

Kepala SDN. Kip V Bara – Baraya, Muhammad Jafar, S. Pd., M. Pd, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada pihak kepolisian yang telah berkenan hadir dan memberikan edukasi penting kepada peserta didik kami

β€œKami sangat mengapresiasi langkah Polsek 04 Makassar, yang peduli terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan. Kami berharap anak-anak di SDN. Kip V Bara – Baraya, bisa menjadi pelopor anti-bullying di lingkungannya masing-masing,” tuturnya.

Kegiatan sosialisasi ini diakhiri dengan perjanjian komitmen bersama oleh perwakilan siswa, guru, dan pihak kepolisian untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak Tanpa Bullying.

β€œBullying itu tidak hanya memukul atau menyakiti secara fisik, tapi juga bisa dalam bentuk ejekan, pengucilan, hingga menyebarkan kebohongan tentang orang lain, terutama melalui media sosial. Ini sangat membahayakan, terutama bagi perkembangan mental anak,” ujar.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan seluruh warga sekolah, baik siswa maupun tenaga pendidik, dapat lebih memahami pentingnya saling menghargai, bersikap empati, serta menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah.

Pos terkait