TargetNasional, Makassar — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) adalah kegiatan puncak dari program Revitalisasi Bahasa Daerah yang digagas oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Sitti Fatimah, S.Pd.I.,M.Pd.I., mengungkapkan, Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Kota Makassar diselenggarakan di SD Inpres Percontohan PAM.
Kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kota Makassar tahun 2026 diselenggarakan untuk melestarikan dan merevitalisasi bahasa daerah ( Bahasa Makassar) bagi kalangan pelajar jenjang Sekolah Dasar (SD) diikuti perwakilan se-Kota Makassar dengan komitmen melestarikan bahasa dan budaya daerah, Sabtu (17/10/2026)
Melestarikan bahasa daerah agar tidak punah di kalangan generasi muda. Menumbuhkan kebanggaan anak-anak dan remaja dalam menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah dalam kehidupan sehari-akari. Dan memperkuat identitas budaya bangsa di tengah arus globalisasi.
Melibatkan siswa jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan tingkat SMA dan SMK. Dimulai dari tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, tingkat provinsi, hingga tingkat nasional (Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional / FTBIN).
Dalam festival ini, para siswa berkompetisi melalui berbagai bentuk seni dan kreativitas berbasis bahasa daerah, antara lain:
β’ Membaca dan menulis puisi / sajak
β’ Mendongeng (dongΓ©ng / ngebuleng)
β’ Menulis cerita pendek (carpon / cerkak)
β’ Berpidato (biantara / sesorah / tesuir)
β’ Seni tradisional (tembang, kawih, syair, atau adu pantun)
β’ Komedi tunggal (stand-up comedy berbahasa daerah)
β’ Membaca dan menulis aksara tradisional (Aksara Sunda, Aksara Jawa, Aksara Pegon, dll.)
“Alhamdulillah” Siswa SD Negeri Kaccia berhasil meraih 4 Juara dalam ajang Lomba FTBI.
1.Jelita juara 1 mendongeng
2. Hafizah juara 1 Menulis cerpen
3. Shaka juara 2 Menulis cerpen
4. Anggun juara 3 Komedi tunggal
Sitti Fatimah, S.Pd.I.,M.Pd.I., berharap Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dapat mencapai tujuan.
Menjadikan bahasa daerah sebagai warisan yang hidup, aktif digunakan, dan diwariskan dengan bangga antar generasi agar tidak punah di Nusantara.
Memelihara ingatan kolektif, nilai-nilai luhur budaya, serta jati diri bangsa melalui pengarusutamaan bahasa ibu di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menjadi sarana pembinaan, pengembangan potensi, dan pemotivasi bagi penutur muda (khususnya siswa SD dan SMP) agar semakin mencintai dan kreatif menggunakan bahasa daerah.
Meningkatkan kepedulian dan komitmen pemerintah daerah (provinsi maupun kabupaten/kota) dalam upaya perlindungan dan revitalisasi bahasa ibu.
Menjadi bagian dari pembangunan karakter dan penguatan Profil Pelajar Pancasila melalui pendidikan multibahasa,”tutur Sitti Fatimah.(Rizal)
Editor//TN Online//ILHO









