TargetNasional Daerah, Online — Dengan tema” Makna Sejarah dan Hubungannya Dengan Kemerdekaan RI”, acara A’dinging dingin lembaga adat kerajaan Bajeng di Bungung Barania mata Allo resmi di mulai.
Kedatangan Raja Bajeng ke XIX Drs. Abd Kahar Pattola Daeng Siala Karaeng Loe RI Bajeng II beserta Permaisuri di lokasi bungung Barania disambut dengan tari paddupa.
Susunan acara A’dinging dingin Kamis tanggal 13 Agustus 2026 di Bungung Barania mataallo sebagai berikut :
Pembukaan oleh protokol.
Pembacaan doa oleh H.Nasaruddin Abdan Karaeng Narang.
Pembacaan ayat suci Alquran.
Angngaru oleh Abd Salam Daeng Remba.
Laporan ketua panitia oleh Kurniandi, S.P., Karaeng Bali.
Menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Pembacaan sejarah singkat A’dinging dingin RI bungung Barania pada tahun 1945, oleh Ahmad Baso Karaeng Tenreng.
Sambutan sambutan:
1. Raja Bajeng XIX, Drs. Abd Kahar Pattola Daeng Siala Karaeng Loe RI Bajeng II.
2. Ketua presidium Kraton Nusantara, dan penasehat luar biasa Lembaga Adat Kerajaan Bajeng (LAKB), bapak Prof.Dr.Muh Asdar, SE.,M.Si., Karaeng Tarru.
3. Ketua Dewan Pendiri dan Pembina Lembaga Adat Tojeng Karaenta Data, penasehat luar biasa Lembaga Adat Kerajaan Bajeng (LAKB), Bapak Muh. Haris Basri Karaeng Lewa.
4. Pemuda Panca Marga (PPM) Kab. Gowa.
Istirahat/Penutup.
Pembacaan sejarah singkat A’dinging dingin ri bungung Barania mataAllo pada tahun 1945, oleh Ahmad Baso Karaeng Tenreng, di perjelas lagi oleh raja Bajeng ke-XIX Drs. Abd Kahar Pattola Daeng Siala Karaeng Loe ri Bajeng II.
Dalam sambutannya Raja Bajeng ke XIX Drs. Abd Kahar Pattola Daeng Siala Karaeng Loe RI Bajeng II menjelaskan, makna sejarah dan hubungannya dengan kemerdekaan negara Republik Indonesia,
A’dinging-dinging ri Bungung Barania di daerah Mataallo, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, adalah tradisi penyucian diri dan ritual kebulatan tekad para pejuang Kerajaan Bajeng. Tempat ini berpusat pada sumur tua keramat (Bungung Barania) yang dahulu dipakai para leluhur dan pasukan pemberani untuk mandi serta memohon kekuatan sebelum turun ke medan perang.
Asal-usul dan makna historis kata Bungung berarti sumur, dan Barania berarti pemberani dalam bahasa Makassar. Sumur ini diyakini berusia ratusan tahun dan menjadi simbol keteguhan serta sumber keberanian masyarakat adat Bajeng.
Istilah a’dinging-dinging (mendinginkan diri) merujuk pada tradisi batin atau ritual menggunakan air sumur tersebut untuk menyejukkan hati, menjernihkan pikiran, dan menyatukan tekad.
Peristiwa penting dalam sejarah masa perjuangan kemerdekaan. Pada tanggal 13 Agustus 1945, sebanyak 37 Anrong Tau (pemuka adat/tokoh masyarakat) Ri Bajeng pernah melaksanakan ritual A’dinging-dinging ri Bungung Barania Mataallo. Ritual tersebut dilakukan untuk membulatkan tekad dan menyatukan kekuatan batin para pejuang guna melawan kembali penjajah Belanda yang hendak menduduki Indonesia pasca kemerdekaan. Hingga kini, lokasi dan tradisi ini terus dirawat oleh Lembaga Adat Kerajaan Bajeng sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah, kebudayaan lokal, dan semangat patriotisme para leluhur.
Tradisi A’dinging-dinging di Bungung Barania mata Allo Limbung (wilayah adat Bajeng, Kabupaten Gowa) merupakan ritual sakral dan historis yang dilakukan oleh para pemangku adat (Anrong Tau) untuk memohon keselamatan, ketenteraman batin, serta memperkuat ikatan spiritual dan tekad perjuangan masyarakat.
Konteks sejarah dan peristiwa penting konsolidasi perjuangan (1945), menjelang kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 13 Agustus 1945, para Anrong Tau ri Bajeng pernah melaksanakan ritual A’dinging-dinging ri Bungung Barania.
Ritual ini berfungsi menyucikan diri dan memantapkan tekad kebersamaan masyarakat adat Bajeng di Limbung untuk menghadapi ancaman kembalinya tentara kolonial.
Sehari setelah ritual tersebut, yakni pada 14 Agustus 1945, bendera Merah Putih dikibarkan di Balla Lompoa Limbung oleh pejuang setempat sebagai bentuk mendahului proklamasi kemerdekaan di Jakarta.
Makna dan nilai filosofis penyucian spiritual (A’dinging-dinging). Secara harfiah berarti mendinginkan atau menenteramkan (membuat dinging/sejuk) hati, pikiran, dan wilayah dari marabahaya atau energi negatif.
Sumur keramat (bungung Barania) ini diyakini masyarakat setempat memiliki nilai historis tinggi sebagai sumber air kehidupan dan tempat bermunajat yang disakralkan sejak masa kerajaan lokal di Bajeng-Limbung,”tutur Drs. Abd Kahar Pattola Daeng Siala Karaeng Loe RI Bajeng II.
Hadir dalam acara A’dinging Dinging RI bingung Barania mataAllo yakni :
1. Penasehat luar biasa Lembaga
adat kerajaan Bajeng, Prof. Dr.
Muh Asdar, SE.,M.Si., Karaeng
Tarru.
2. 37 Anring Tau
3. Pengurus LAKB
4. Laskar gerakan pemuda Bajeng
5. Komunitas rumpun keluarga 37
Anring Tau (Tia’Oke’ famili,
Penrita benggolo Jannang
Parangmalengu), Daengta Paku,
Jannang Borong Bilang, Jannang
Jannang Pajalau, Jannang
Sulitanga.
6. Pemuda Panca Marga Kab.
Gowa.
Lembaga eksternal.
1. Kapolsek Bajeng dan
Kasat intelkam Polres Gowa.
2. Bija Mangkasara.
3. Seni budaya Kiwal Garuda hitam.
4. Munta Bassi Selebes.
5. Pakarena pusaka leluhur.
6. Ketua devisi seni budaya
persaudaraan Munta Bassi
Nusantara.
7. Laskar Biru sallo Deppasawi.
8. Lembaga Rappo rappoa RI
Paropo.
9. Lembaga adat Ishaka
Manggabarai Karaeng
Bontoalaka Arung Matoa Wajo ke
43.
10. Ketua umum trah Gowa Tallo
Sanrobone GTS Suwadi Idris
Amir I Daeng Mattawang
Karaeng Lau.
11. H.M Mansur Palewai Daeng
Matutu ketua umum Kerukunan
Keluarga Sanrobone (KKS)
12. Tuan Guru Buang sekertaris
jendral Kerukunan Keluarga
Sanrobone (KKS)
13. Andi Bau Usdi Mappanyukki
Daeng Parani Karaenta Popoq.
14. Ir. Nasaruddin Hasan Karaeng
Situju.
15. DR. Muhammad Ilyas Karaeng
Situju.
16. Kiwal Garuda Hitam.
17. M. Rais Karaeng Tiro lembaga
adat Karaeng Gantarang.
18. Kepala Desa Panakkukang.
19. Ketua BPD desa Panakkukang.
20. Ketua LAD desa Panakkukang.
21. Keluarga besar Tuan Ance
Daeng Tuanta Salamaka ri
Gowa (Bontorita Galesong
utara).
22. Keluarga besar I Dato’ ri
Bontolebang.
23. DR. Muhammad Taufiq Tobo
Daeng Tojeng.
24. Totok Suprianto, S.H.,MH.
25. Abd Hafid Moha Daeng Tarru.
(Red)







