Sosialisasi Kelurahan Mappala Bersama RW/RT Se-kecamatan Rappocini di UPTD SPF SD Negeri Tidung Makassar

Oplus_131072

TargetNasional, Online β€” Sosialisasi bersama kelurahan Mappala, RW, RT Kec. Rappocini bersama sekolah terdekat UPTD SPF SD Negeri Tidung terkait membahas alur pemilahan sampah dan jenis jenis sampah sekalian proses pembuatan teba disekitar baruga kelurahan mappala dalam rangka memajukan program pemerintah menanggulangi sampah, Rabu (05/08/2026)

Syahruni Arisandy, S.Pd.,M.Pd., mengungkapkan, sosialisasi kolaboratif antara kelurahan, RW, RT, dan sekolah terdekat bertujuan untuk mewujudkan pengelolaan sampah mandiri berbasis sumber melalui pemilahan yang tepat serta penerapan metode teba modern sebagai solusi pengolahan sampah organik.

Bacaan Lainnya

Berikut adalah poin-poin penting materi yang dibahas dalam kegiatan tersebut:
1. Jenis-Jenis SampahSampah Organik:
Sisa makanan, sayuran, buah busuk, dan daun kering yang mudah membusuk serta terurai secara alami.

Sampah Anorganik seperti, plastik, kaca, kertas, dan logam yang tidak bisa membusuk tetapi bisa didaur ulang.

Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) seperti, baterai, obat-obatan kedaluwarsa, dan kemasan bahan kimia yang memerlukan penanganan khusus.

Sampah Residu seperti, sisa pemilahan lain yang sulit diurai atau didaur ulang dan biasanya dibuang ke tempat pembuangan akhir.

2. Alur pemilahan sampah dari sumber pemisahan di rumah/Sekolah :
Warga dan siswa memisahkan sampah sejak dari sumbernya (wadah berbeda untuk organik, anorganik, dan B3/residu).

Penyaluran Anorganik:
Sampah anorganik bernilai ekonomis disetorkan ke bank sampah tingkat RT/RW atau sekolah.

Pengolahan Organik:
Sampah organik dikelola secara mandiri menggunakan lubang resapan khusus di lingkungan sekitar.

3. Teba modern adalah lubang komposter berbentuk seperti sumur resapan (kedalaman 1,5–2 meter) yang dindingnya diperkuat dengan beton/gorong-gorong dan dilengkapi tutup di bagian atas.

Teba selain menjadi wadah pengurai sampah organik menjadi kompos alami, teba modern juga berfungsi sebagai lubang resapan air hujan untuk mencegah genangan,”tegasnya.

Menurut, Syahruni Arisandy, S.Pd.,M.Pd., tujuan utama sosialisasi tentang pemilahan sampah oleh pihak kelurahan, RW, dan RT di sekolah terdekat adalah untuk membangun sinergi antara lingkungan tempat tinggal dan lembaga pendidikan.

Siswa dan guru dapat membedakan sampah organik, anorganik, serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Peserta memahami bahaya penumpukan sampah bagi kesehatan lingkungan sekolah dan pemukiman sekitar.

Melekatnya pemahaman tentang cara Mengurangi (Reduce), Menggunakan kembali (Reuse), dan Mendaur ulang (Recycle) sampah. Siswa langsung membuang sampah ke tempat yang sesuai di lingkungan sekolah, bukan menyatukannya.

Munculnya kebiasaan baru seperti membawa botol minum (tumblr) dan wadah makan sendiri ke sekolah. Lahirnya duta sampah atau komunitas siswa yang aktif mengawasi kebersihan sekolah.

Sekolah dapat menyalurkan sampah anorganik layak jual ke Bank Sampah milik RW atau kelurahan. Sampah sisa makanan dari kantin sekolah dialirkan ke program komposting atau budidaya maggot RT/RW.

Terjadinya kolaborasi berkala antara warga, pengurus RT/RW, dan warga sekolah untuk membersihkan area perbatasan.

Siswa membawa pulang ilmu yang didapat dan mengajarkan orang tua mereka cara memilah sampah di rumah. Berkurangnya total beban sampah yang dikirim dari wilayah kelurahan tersebut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),”tutur Syahruni Arisandy.

Β 

Pos terkait